Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX bersama bu Santi HY
Peta Wilayah Kerajaan Islam di Indonesia KERAJAAN CIREBONSejarah Berdiri Kerajaan CirebonKesultanan Cirebon ini berada di daerah sekitar pantai utara Pulau Jawa yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Posisi yang sangat strategis ini kemudian membuat Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan penting sekaligus jembatan antara dua budaya yang berbeda Jawa dan Sunda. Sehingga, kesultanan Cirebon ini memiliki budaya yang tidak masuk dalam budaya Jawa dan juga tidak masuk dalam budaya Sunda. Kesultanan Cirebon memiliki budaya sendiri yaitu kebudayaan Cirebon.Menurut Sulendraningrat, yang didasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon ini pada awalnya hanyalah sebuah dukuh kecil. Dukuh kecil ini didirikan oleh Ki Gedeng Tapa yang kemudian berkembang menjadi sebuah kampung yang ramai dan kemudian diberi nama dengan sebutan Caruban. Caruban sendiri dalam bahasa Sunda adalah campuran, karena di Caruban berisi banyak orang yang bercampur antara pendatang dari berbagai suku bangsa, agama dan adat istiadat. Tujuan mereka datang ke Caruban ini beragam, ada yang ingin menetap dan ada juga yang memang bertujuan untuk berdagang saja.Pada umumnya, masyarakat penduduk Caruban memiliki mata pencaharian sebagai seorang nelayan. Dari profesi sebagai nelayan ini kemudian berkembang menjadi beberapa variasi dalam mencari nafkah. Ada yang kemudian menjadi penangkap ikan dan rebon atau udang kecil di sepanjang pantai. Udang kecil dan ikan ini kemudian digunakan sebagai bahan pembuatan terasi. Dari sini kemudian muncullah para pedagang terasi, petis dan juga garam. Dengan aktifitas ekonomi Cirebon yang sangat padat karena didukung lokasi yang strategis, maka lama kelamaan Cirebon pun menjadi sebuah kota besar yang menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa.Banyak yang menyebutkan bahwa pendiri pertama Kerajaan Islam Cirebon ini adalah Pangeran Walangsungsang. Pangeran Walangsungsang ini sebenarnya adalah pewaris dari Kerajaan Padjajaran, namun karena ia adalah seorang muslim, gelar putra mahkotanya kemudian dicopot. Kemudian Oangeran Walangsungsang membuat pedukuhan di daerah Kebon Pesisir dan mendirikan Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi) membuat Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M.Letak KerajaanKesultanan Cirebon berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang menjadi perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, ini membuat Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan sekaligus “jembatan” antara 2 kebudayaan, yaitu budaya Jawa dan Sunda.Raja-raja yang memerintahPangeran Cakrabuana [ raden walangsungsang ] (.._1479)Sunan Gunung Jati (1479-1568)Panembahan Ratu I (1570-1649)Panembahan Ratu II (1649-1677)Puncak kejayaan kerajaan cirebonKerajaan Cirebon berada pada puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah putra wanita asal Galuh-Caruban yaitu Nhay Lara Santang adik dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban yang menikah dengan Mauana Sultan Muhammad. Ketika Syarif Hidayat berusia duapuluh tahun, ia pergi ke Makkah berguru kepada Syeh Tajamudin Al ubri, di sini ia tinggal selama dua tahun, setelah tamat dari Syeh Tajamudin kemudian Syarif Hidayat, meneruskan pelajaran kepada Syeh Ataillah Syazalli, masih di Mekkah juga selama dua tahun. Ketika Cirebon mengalami kejayaan pada masa Syarif Hidayatullah sudah tidak diragukan lagi, karena pengalaman ilmu yang didapat sangat luar biasa. Itu dapat kita lihat dari beliau mempunyai dua guru besar yang ada di Mekkah. Syarif hidayatullah juga pernah belajar Tasawuf di Bagdad. Beliau di Bagdad beliau belajar tasawuf selam dua tahun. Kemudian beliau kembali ke negerinya yaitu Oqnah Yutra. Kemudain beliau memutuskan untuk pergi ke Jawa karena beliau ingin menjadi mubaligh di Jawa. Dalam perjalanannya ke pulau Jawa Syarif Hidayatullah sempat singgah di Gujarat. Setelah dari Gujarat, Srarif Hidayat singgal dan tinngal pula di Samudera Pasai, sebuah tempat di Aceh yang pada masa itu sudah merupakan Kerajaan Islam yang cukup besar karena sudah berdiri sejak 1296. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalannanya ke Banten, kemudian ke Ampel.. Setelah dari Ampel, kemudian beliau menuju Cirebon untuk menyiarkan agama Islam atas perintah dari para wali. Disisi lain Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban. mendirikan pesantren di Cirebon menjadi hal yang mudah bagi Syarif Hidayatullah. Diperkirakan pada suatu waktu ada beberapa orang dari Banten yang sengaja datang ke Pasambangan menemui Syeh Jati (yang sudah dikenal di Banten karena pernah tinggal di sini beberapa waktu lamanya setibanya dari Samudera Pasai), dan mengajukan permohonan kepada Syeh jati untuk memberikan pelajaran Agama Islam di Banten . Ketika berada di Banten, Syarif Hidayatullah diminta untuk segera kembali ke Cirebon oleh Pangeran Cakrabuwana. Karena kehadiran dan tenaganya sangat dibutuhkan di Cirebon. Ternyata Pangeran Cakranuwana sudah lama mempunyai rencana dan ingin cepat merealisasikan rencananya itu untuk menobatkan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa di nagari Caruban menggantikan dirinya . Penobatan Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung di Cirebon merupakan era baru bagi Cirebon. Beliaulah yang mengganti nama Cirebon yang dulunya adalah Caruban, dan diganti dengan Cerbon dan terus berkembang menjadi Cirebon. Masa kejayaan kerajaan Cirebon di awali dari perkembangan Islam. Pada masa Syarif hidayatullah Islam berkembang dengan pesat. Sudah tidak kaget lagi ketika Islam mengalami perkembangan yang pesat. Memang tujuan utama Syarif Hidayatullah ke pulau Jawa adalah menjadi mubaligh untuk menyiarkan Islam. Disisi lain gaya komunikasi yang digunakan sehingga dapat membius pribumi Cirebon untuk masuk Islam. Silsilah dari Syarif Hidayatullah juga yang dapat dengan mudah menjadi keyakinan pribumi beliau, yaitu cucu dari Prabu Siliwangi. Kejayaan kerajaan Cirebon tidak lepas dari campur tangan Pangeran Cakrabuwana. Menurut perkiraan beberapa waktu sebelum penobatan, syarif Hidayatullah dengan Pangeran Cakrabuwana telah membicarakan tentang berbagai konsep pembangunan negara serta beberapa rencana operasional. Pada masa itu terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) dengan penempatan putra Syarif Hidayatullah , yaitu Maulana Hasanuddin, setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Unum, penguasa kadipaten dari kerajaan Sunda Pajajaran yang berkedudukan di Banten Girang. Setelah Islam, pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin terletak di Surowan dekat muara Cibanten .Sudah jelas bahwa Syarif Hidayatullah memperluas wilayah dengan penyerangan daerah-daerah kecil untuk menyabarkan Islam. Ini penting untuk dilakukan supaya Islam dapat tersebar dengan cepat. Upaya ini juga untuk mendapatkan pengaruh yang kuat dari wilayah-wilayah lain di Jawa bagian barat. Pada suatu ketika Syarif Hidayatullah pergi ke Demak untuk membantu membangun masjid Demak. Syarif Hidayatullah menyumbang tiang masjid yang sekarang dikenal dengan Saka Guru. Ketika merujuk dari sumbangsi Syarif Hidayatullah dalam pembangunan masjid Demak, ini merupakan salah satu strategi dari Syarif Hidayatullah dalam melakukan hubungan abatar kerajaan. Karena pada waktu itu di Demak juga berdiri kerajaan yang besar dibawah pimpinan Raaden PatahPerekonomian kerajaan cirebonSebagai sebuah kesultanan yang terletak diwilayah pesisir pulau Jawa, Cirebon mengandalkan perekonomiannya pada perdangangan jalur laut. Dimana terletak Bandar-bandar dagang yang berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang dari luar Cirebon. Juga memiliki fungsi sebagai tempat jual beli barang dagangan.Peninggalan kerajaan cirebonKeraton Kasepuhan CirebonKereta Singa Barong KasepuhanKeraton KanomanKereta Paksi Naga LimaKeraton KacirebonanMasjid Sang Cipta RasaMakam Sunan Gunung JatiRuntuhnya kerajaan cirebonKerajaan Cirebon terbagi menjadi 3 kesultanan yaitu, Keraton Kasepuhan dipegang oleh Sultan Sepuh, Keraton Kanoman dipegang oleh Sultan Anom, Keraton Karicebonan dipegang oleh Panembahan Karicebonan. Mereka hanya mengurusi kerajaan masing-masing. Mengakibatkan kerajaan Cirebon perlahan-lahan mulai hancur. Setelah Sultan Panembahan Gerilya wafat pada tahun 1702, terjadi perebutan kekuasaan diantara kedua putranya, yaitu antara Pangeran Marta Wijaya dan Pangeran Wangsakerta. Di samping itu adanya campur tangan VOC yang mengadu domba mereka membuat persaudaraan mereka menjadi permusuhan. Berikut ini yang bukan kerajaan Islam di Pulau Jawa adalah... Kerajaan Banten Kerajaan Cirebon Kerajaan Taruma Negara Kerajaan Pajang Gambar yang menunjukkan peninggalan sejaraah kerajaan Cirebon adalah... Raja pertama kerajaan Mataram Islam di Indonesia adalah................Raja ini mendapat gelar..........Yang pertama kalli membuat kalender Jawa,,,.............Karya sastranya dibidang filsafat judul bukunya adalah.... Jodohkanlah kalimat tersebut yang sesuai dengan bacaan Raja pertama kerajaan Mataram Islam di Indonesia adalah Sutawijaya Raja ini mendapat gelar Panembahan Senopati Yang pertama kalli membuat kalender Jawa, Sultan Agung Karya sastranya dibidang filsafat judul bukunya adalah Sastra Gending